Putihnews.com, BANDA ACEH – Tradisi Khanduri Laot Lhok Kuala Cangkoi Ulee Lheue berlangsung khidmat pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan yang digelar di kawasan pesisir Ulee Lheue itu dihadiri Prof. Teuku Muttaqin Mansur, didampingi Tunn Masthur Yahya selaku Ketua KKR Aceh, Abu Nasruddin Hasan selaku Dewan Penasehat Geuthee Institute, Pawang Mulyadi Muchtar selaku Ketua KNTI Aceh Besar yang juga mantan Panglima Laot Lhoek Krueng Raba Lhoknga, serta Pemerhati Kelautan dan Perikanan Rahmi Fajri yang juga mantan Sekjend Jaringan KuALA.

Dalam kesempatan tersebut, Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi, Pawang Syafaat,menyampaikan terima kasih atas kehadiran para undangan. Ia menegaskan bahwa Khanduri Laot merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu.

“Terima kasih atas kehadirannya. Ini adalah warisan budaya yang harus kita sampaikan ke anak cucu kita,” ujar Syafaat.

Sementara itu, Prof. Teuku Muttaqin Mansur mengatakan bahwa Khanduri Laot adalah tradisi yang telah lama dilakukan oleh setiap Panglima Laot di Aceh. Menurutnya, pelaksanaan kenduri ini biasanya dilakukan satu tahun sekali, dan paling lama lima tahun sekali.

“Kenduri Laot adalah bukti kedaulatan lembaga dan wilayah masyarakat hukum adat di laut Aceh. Kenduri juga sebagai rasa syukur yang menegaskan bahwa wilayah laut kita bukan tak bertuan, melainkan dikelola secara ketat dan lestari oleh lembaga Panglima Laot sebagai Ketua Persekutuan Masyarakat Hukum Adat secara turun-temurun,” kata Muttaqin.

Ia menambahkan, keberadaan Khanduri Laot bukan hanya sebagai tradisi seremonial, tetapi juga menjadi penegasan atas eksistensi hukum adat laut yang selama ini hidup dan dijaga oleh masyarakat pesisir Aceh.

Acara Khanduri Laot tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antara tokoh adat, pemerhati kelautan, dan masyarakat nelayan dalam memperkuat komitmen menjaga laut Aceh agar tetap lestari serta memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *