Keberkahan Shalawat

Oleh ,Rahmi Fajri

PUTIHNEWS.COM, BANDA ACEH – Tidak ada nikmat dan rahmat terbesar bagi umat manusia selain diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Kehadiran beliau membawa risalah Islam, mengajarkan tauhid, akhlak mulia, kasih sayang, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Memasuki bulan Rabiul Awal 1448 Hijriah, umat Islam kembali diingatkan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bulan ini dikenal luas sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan di berbagai daerah di Indonesia diperingati melalui kegiatan Maulid Nabi, majelis ilmu, zikir dan pembacaan shalawat.

Berdasarkan sejumlah kalender Hijriah, 12 Rabiul Awal 1448 H diperkirakan bertepatan dengan 25–26 Agustus 2026, dengan perbedaan satu hari yang dapat terjadi berdasarkan metode penanggalan dan rukyat.

Shalawat sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

(QS. Al-Ahzab: 56)

Shalawat bukan sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan dengan lisan. Lebih dari itu, shalawat menjadi salah satu bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah SAW sekaligus upaya untuk mengingat perjuangan beliau dalam menyampaikan risalah Islam.

Rasulullah SAW juga menjelaskan besarnya keutamaan shalawat. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa siapa yang bershalawat kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.

Karena itu, memperbanyak shalawat merupakan amalan ringan yang memiliki keutamaan besar. Shalawat dapat diamalkan kapan saja, baik ketika berada di rumah, dalam perjalanan, setelah salat maupun dalam berbagai kesempatan lainnya.

Maulid menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Nabi

Peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk kembali mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW, memahami akhlak beliau, memperbanyak shalawat, mempererat silaturahmi, bersedekah dan meneladani kehidupan Rasulullah.

Kecintaan kepada Rasulullah juga seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama serta menjaga persaudaraan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW.

Dengan demikian, memperingati kelahiran Rasulullah bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan umat Islam.

Perbanyak shalawat dalam kehidupan

Ada pesan penting yang patut direnungkan: jika kita berharap mendapatkan keberkahan, rahmat dan kebaikan dalam kehidupan, maka salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.

Shalawat juga menjadi pengingat agar hati tidak jauh dari Rasulullah. Semakin sering lisan menyebut nama beliau, semakin besar pula kesempatan bagi kita untuk mengingat ajaran dan akhlaknya.

Karena itu, mari menjadikan shalawat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya ketika bulan Rabiul Awal tiba, tetapi setiap hari.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah SAW tidak hanya terucap melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dengan mengikuti sunnah, meneladani akhlak dan menjalankan ajaran beliau dalam kehidupan.

Memperbanyak shalawat berarti memperbanyak mengingat Rasulullah. Dan mencintai Rasulullah berarti berusaha meneladani akhlaknya.(Rf)

Sumber, Tausiah Syukuran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *