Penyerehan Sertifikat Narasumber Kuliah Umum

PUTIHNEWS.COM,Banda Aceh, 1 Juli 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah menyelenggarakan Kuliah Umum Konservasi Sumber Daya Pesisir Aceh dengan tema “Membangun Sinergi Akademisi dan Generasi Muda dalam Menjaga Ekosistem Pesisir untuk Masa Depan Berkelanjutan.” Kegiatan ini menghadirkan Rahmi Fajri, pemerhati kelautan dan perikanan Aceh sekaligus penggiat adat laot, sebagai narasumber utama.

Kuliah umum tersebut dihadiri oleh Wakil Dekan Fakultas Teknik, Ketua Jurusan Teknik Lingkungan, dosen, serta mahasiswa Universitas Serambi Mekkah. Kehadiran pimpinan fakultas dan jurusan menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas akademik mahasiswa dalam memahami isu-isu pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan melalui pendekatan ilmiah dan kearifan lokal.

Pada kesempatan tersebut, Rahmi Fajri menyampaikan materi berjudul “RZWP3K dan Proyeksi Tantangan dalam Pengelolaan Wilayah Kelola Hukum Adat Laot Aceh (WK-MHAL).” Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Wilayah Kelola Hukum Adat Laot (WK-MHAL) merupakan ruang pengelolaan yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir Aceh melalui kelembagaan Panglima Laot. Sistem ini tidak hanya mengatur pemanfaatan sumber daya laut, tetapi juga menjadi instrumen penyelesaian konflik, perlindungan kawasan penting, serta menjaga keseimbangan ekologi pesisir.

Rahmi Fajri juga mengulas pentingnya sinkronisasi antara Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) dengan wilayah kelola hukum adat laot. Menurutnya, pengakuan terhadap wilayah kelola masyarakat adat dalam kebijakan tata ruang laut merupakan langkah strategis untuk menciptakan pengelolaan sumber daya pesisir yang adil, berkelanjutan, dan berbasis pada pengetahuan lokal yang telah teruji selama berabad-abad.

Foto Bersama Mahasiswa Tehnik Lingkungan USM

Lebih lanjut, ia menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan wilayah pesisir Aceh, mulai dari perubahan iklim, abrasi pantai, pencemaran laut, konflik pemanfaatan ruang, hingga tekanan pembangunan di kawasan pesisir. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat adat, akademisi, dan generasi muda dalam memperkuat tata kelola pesisir yang mampu menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai implementasi hukum adat laot dalam kebijakan pemerintah, peluang riset mengenai konservasi pesisir, serta peran mahasiswa teknik lingkungan dalam mendukung perlindungan ekosistem pesisir melalui inovasi dan teknologi.

Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Rahmat Wiranto menyampaikan bahwa kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya organisasi mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang menghubungkan ilmu teknik lingkungan dengan isu-isu konservasi sumber daya pesisir dan kearifan lokal Aceh. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan pesisir serta mampu berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan foto bersama sebagai simbol komitmen bersama untuk membangun kolaborasi antara dunia akademik, masyarakat, dan lembaga adat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *