foto hanyalah ilutrasi

Di tengah masyarakat, kita sering mendengar keluhan seorang ayah atau ibu yang berkata, “Anakku durhaka. Tidak mau mendengar nasihat, membantah, bahkan tidak menghormati orang tuanya.” Namun, pernahkah kita bertanya, apakah kedurhakaan seorang anak selalu lahir begitu saja?

Ada sebuah kisah yang masyhur pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Suatu hari, seorang ayah datang menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Dengan penuh emosi ia mengadukan anaknya yang dianggap durhaka. Menurutnya, sang anak tidak patuh, sering membangkang, dan tidak menghormatinya.

Umar kemudian memanggil anak tersebut dan bertanya, “Mengapa engkau durhaka kepada ayahmu? Bukankah seorang anak wajib berbakti kepada kedua orang tuanya?”

Anak itu menjawab dengan tenang, “Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang ayah juga memiliki kewajiban terhadap anaknya?”

Umar menjawab, “Tentu.”

Anak itu kemudian berkata, “Ayahku tidak memilihkan ibu yang baik untukku. Sejak kecil ia tidak mengajariku Al-Qur’an, tidak mengajarkan ilmu agama, tidak mendidikku dengan akhlak yang mulia, bahkan tidak membimbingku mengenal Allah dan Rasul-Nya. Jika hari ini aku menjadi seperti ini, bukankah ia telah lebih dahulu melalaikan hak-hakku?”

Mendengar penjelasan itu, Umar bin Khattab menoleh kepada sang ayah seraya berkata, “Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia durhaka kepadamu.”

Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Anak bukanlah lembaran kosong yang tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang buruk. Karakter, akhlak, dan keimanannya dibentuk sejak sebelum ia lahir, sejak orang tuanya memilih pasangan hidup.

Karena itu, Islam mengajarkan agar seseorang memilih calon suami atau calon istri yang memiliki agama dan akhlak yang baik. Rasulullah SAW mengingatkan agar agama menjadi pertimbangan utama dalam memilih pasangan, sebab dari keluarga yang saleh akan lahir generasi yang lebih mudah dibimbing menuju kebaikan.

Tugas orang tua tidak berhenti setelah anak lahir. Mereka berkewajiban memberikan nama yang baik, memenuhi kebutuhan hidupnya, mengajarkan Al-Qur’an, membiasakan salat, menanamkan adab, memperkenalkan halal dan haram, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Anak lebih banyak meniru daripada mendengar. Apa yang dilakukan orang tua akan lebih membekas daripada apa yang mereka ucapkan.

Ketika seorang anak tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa pendidikan agama, tanpa perhatian, dan tanpa contoh yang baik, maka jangan heran jika kelak ia kesulitan menghormati orang tuanya. Tentu tidak semua anak yang salah disebabkan oleh orang tua, tetapi orang tua memegang peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak.

Membangun keluarga bukan dimulai saat anak lahir, melainkan sejak memilih pasangan hidup. Rumah tangga yang dibangun di atas iman, ilmu, kasih sayang, dan akhlak akan melahirkan generasi yang menghormati orang tua, mencintai agama, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Maka, sebelum kita mengeluhkan anak yang dianggap durhaka, marilah bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menunaikan hak-hak mereka? Sudahkah kita menjadi teladan yang baik? Sudahkah kita mengajarkan mereka mengenal Allah, mencintai Rasulullah, dan hidup dengan akhlak yang mulia?

Karena sesungguhnya, anak adalah cermin dari pendidikan yang ia terima di rumah. Orang tua yang baik akan berusaha menjadi guru pertama, sahabat terbaik, dan teladan utama bagi anak-anaknya.

Semoga Allah SWT menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah, penuh rahmat, dan melahirkan generasi yang saleh dan salehah, yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *