oleh :Rahmi Fajri

Di tengah perubahan zaman dan semakin berkembangnya peran ayah dalam mengasuh anak, ada satu kenyataan yang masih sulit dibantah: peran seorang ibu belum mampu sepenuhnya digantikan. Bukan karena ayah tidak mampu berkontribusi, melainkan karena begitu banyak tugas, kasih sayang, dan pengorbanan seorang ibu yang menyatu dalam setiap detik kehidupan keluarga.

Sejak fajar menyingsing, seorang ibu telah memulai aktivitasnya. Ia bangun lebih awal untuk menunaikan salat, menyiapkan sarapan, memasak, membangunkan anak-anak, menyiapkan pakaian sekolah, memastikan perlengkapan mereka lengkap, hingga mengantar anak ke sekolah. Semua dilakukan dengan penuh kesabaran, bahkan sebelum dirinya sempat memikirkan kebutuhan pribadi.

Bagi ibu yang juga bekerja di luar rumah, tanggung jawab itu tidak berhenti. Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor atau usaha, ia kembali ke rumah dan melanjutkan tugas lainnya. Mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan makan siang maupun makan malam, mengantar anak mengaji, mendampingi mereka belajar, hingga menidurkan anak-anak menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani hampir setiap hari.

Tiada hari tanpa kegiatan. Hampir tidak ada waktu benar-benar kosong bagi seorang ibu. Ketika anggota keluarga beristirahat, sering kali ibu masih memikirkan kebutuhan esok hari. Semua dilakukan tanpa banyak mengeluh, karena cinta kepada keluarga menjadi sumber kekuatannya.

Lebih dari sekadar mengurus rumah tangga, ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Dari tangan dan lisannya, anak belajar berbicara, mengenal sopan santun, memahami nilai-nilai agama, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab. Karakter seorang anak banyak dibentuk dari didikan dan teladan seorang ibu sejak usia dini.

Karena begitu besar jasa dan pengorbanannya, Islam memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada seorang ibu. Rasulullah SAW bersabda bahwa “surga berada di bawah telapak kaki ibu.” Ungkapan ini bukan sekadar kiasan, tetapi pengingat bahwa berbakti, menghormati, dan membahagiakan ibu merupakan jalan menuju ridha Allah SWT.

Namun demikian, penghormatan kepada ibu bukan berarti mengecilkan peran ayah. Ayah juga memiliki tanggung jawab besar sebagai pemimpin keluarga, pelindung, pencari nafkah, dan pendidik bagi anak-anaknya. Keluarga yang kuat lahir dari kerja sama dan saling melengkapi antara ayah dan ibu. Hanya saja, pengorbanan seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendampingi anak sejak awal kehidupan memiliki keistimewaan yang membuatnya memperoleh kedudukan yang sangat tinggi.

Sudah sepantasnya kita menghargai setiap tetes keringat, air mata, dan doa seorang ibu. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa besar cintanya. Selagi ibu masih ada, luangkan waktu untuk membahagiakannya, meringankan bebannya, dan menunjukkan kasih sayang. Sebab, tidak ada kasih yang lebih tulus selain kasih seorang ibu yang mencintai anaknya tanpa syarat.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga para ibu, memberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam setiap langkah mereka. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *