Zaini Abdullah yang akrab disapa Abu Doto. Foto Ist

Bagian II

PUTIHNEWS.COM. Salah satu warisan pembangunan yang paling mudah dikenali dari masa kepemimpinan Abu Doto adalah keberaniannya mendorong proyek-proyek strategis yang berorientasi pada kebutuhan jangka panjang. Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi Aceh pascatsunami, pemerintahannya berupaya memastikan bahwa pembangunan tidak berhenti pada pemulihan, tetapi bergerak menuju modernisasi.

Salah satu proyek yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya adalah pembangunan Flyover Simpang Surabaya di Kota Banda Aceh. Ketika proyek tersebut mulai direncanakan, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan urgensinya. Namun, pemerintah melihat persoalan lalu lintas bukan hanya sebagai masalah hari ini, melainkan tantangan yang akan semakin besar seiring pertumbuhan kota.

Kini, keberadaan flyover tersebut menjadi bagian penting dari sistem transportasi perkotaan Banda Aceh. Infrastruktur itu memperlancar mobilitas masyarakat, mengurangi kepadatan di salah satu titik lalu lintas tersibuk, sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan memerlukan keberanian untuk melihat jauh ke depan. Kebijakan yang baik sering kali baru sepenuhnya dipahami manfaatnya setelah waktu membuktikannya.

Namun, jika ada satu proyek yang paling melekat dalam ingatan masyarakat Aceh selama kepemimpinan Abu Doto, maka jawabannya adalah revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid Raya bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah simbol sejarah, identitas budaya, sekaligus representasi spiritual masyarakat Aceh. Ketika tsunami melanda pada 26 Desember 2004, masjid ini tetap berdiri kokoh di tengah kehancuran yang meluluhlantakkan Banda Aceh. Sejak saat itu, Baiturrahman tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga lambang keteguhan dan harapan.

Kesadaran akan makna simbolik itulah yang melatarbelakangi revitalisasi kawasan masjid pada masa pemerintahan Abu Doto. Pemerintah tidak sekadar mempercantik bangunan, tetapi berupaya meningkatkan kenyamanan dan daya tampung kawasan masjid tanpa menghilangkan nilai sejarah maupun karakter arsitekturnya.

Hadirnya payung-payung elektrik di halaman masjid kemudian menjadi ikon baru yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain memberikan kenyamanan bagi jamaah, kawasan Masjid Raya Baiturrahman berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi yang memperkuat citra Aceh sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Keberhasilan proyek tersebut tidak hanya diukur dari keindahan fisiknya. Kehadiran wisatawan turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat di sekitar kawasan masjid. Aktivitas perdagangan, usaha kecil, sektor kuliner, hingga jasa pariwisata memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Yang menarik, berbagai proyek besar pada masa kepemimpinan Abu Doto umumnya ditempuh melalui pendekatan dialog. Berbagai unsur masyarakat, ulama, akademisi, dan pemangku kepentingan diajak berdiskusi sebelum keputusan strategis diambil. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan bahwa pembangunan akan lebih kokoh apabila lahir dari proses musyawarah.

Di sinilah letak salah satu kekuatan kepemimpinan Abu Doto. Ia memahami bahwa seorang gubernur tidak mungkin memiliki seluruh jawaban atas persoalan daerah. Karena itu, ruang partisipasi dibuka seluas mungkin. Kepemimpinan tidak dipraktikkan sebagai bentuk dominasi, melainkan sebagai proses menghubungkan berbagai gagasan menjadi sebuah kebijakan.

Dalam teori pemerintahan modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai participatory governance, yaitu tata kelola pemerintahan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Meskipun istilah tersebut mungkin tidak pernah secara eksplisit digunakan dalam setiap kebijakan pemerintahannya, semangat itulah yang tampak dalam berbagai langkah yang diambil.

Pendekatan dialogis menjadi semakin penting mengingat Aceh memiliki karakter sosial yang khas. Daerah ini memiliki peran ulama yang kuat, struktur adat yang masih hidup, serta masyarakat yang sangat menghargai musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Karena itu, pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan administratif, tetapi juga memerlukan sensitivitas terhadap nilai-nilai lokal.

Warisan terbesar Abu Doto mungkin bukan hanya bangunan yang berdiri megah atau jalan yang membentang panjang. Warisan terpentingnya adalah cara memimpin. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus ditampilkan melalui retorika yang keras atau keputusan yang sepihak. Justru dalam banyak kesempatan, ketenangan, kesabaran, dan kesediaan mendengar mampu melahirkan keputusan yang lebih diterima masyarakat. Di tengah iklim politik yang semakin kompetitif, teladan semacam ini menjadi relevan untuk terus diingat. Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang memenangkan pemilihan umum, melainkan juga tentang menjaga ruang dialog setelah proses politik berakhir. Seorang pemimpin pada akhirnya dinilai bukan hanya dari proyek yang berhasil dibangun, tetapi juga dari kualitas hubungan yang berhasil dibangun dengan masyarakat yang dipimpinnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *