Oleh: Teuku Muttaqin Mansur

(Direktur Geuthee Institute)

Akhir-akhir ini, di berbagai tingkat kepemimpinan, mulai dari nasional, daerah, hingga perguruan tinggi, tantangan terbesar kepemimpinan bukan sekadar kemampuan intelektual, koneksi mancanegara melainkan sikap dalam memimpin. Organisasi akan sulit berkembang jika pemimpin merasa paling tahu segalanya dan paling benar.

Ada satu kalimat yang hingga kini terus terngiang di benak saya, yaitu “pintar merasa, bukan merasa pintar.” Kalimat ini sudah cukup lama saya dengar dari Mawardi Ismail, mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala ketika ia menganalogikan menjadi seorang pemimpin. Kalimat yang sederhana, tetapi mengandung filosofi kepemimpinan yang sarat makna.

Kalimat itu pula yang saya tuliskan sebagai salah satu pokok pikiran ketika menjawab pertanyaan pertama dalam proses seleksi calon Dekan di lingkungan Universitas Syi’ah Kuala 22 Juni 2026 lalu. Saya mengaitkannya dengan implementasi Good University Governance (GUG), yang menjadi salah satu misi penting Rektor Universitas Syiah Kuala.

Menariknya, gagasan tersebut kembali didalami oleh salah seorang asesor pada saat wawancara pada 1 Juli 2026. Tulisan ini bukan hendak menggugat proses pemilihan dekan, namun hanya sebagai renungan untuk setiap pemimpin.

Bagi saya, seorang pemimpin pada setiap level tidak boleh terjebak dalam perasaan bahwa dirinya merasa paling pintar atau paling mengetahui segala hal. Sebab, ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, pengalaman setiap orang berbeda, dan kebenaran sering kali lahir dari dialog, bukan dari ego. Apa yang kita yakini benar hari ini, bisa saja besok memerlukan penyempurnaan.

Sebaliknya, seorang pemimpin haruslah pintar-pintar merasa. Artinya, memiliki kepekaan terhadap keadaan, mampu membaca situasi, memahami denyut organisasi, serta mendengar suara orang-orang yang dipimpinnya. Ia tidak sekadar melihat persoalan dari balik meja, tetapi juga mampu merasakan apa yang dirasakan oleh bawahan, kolega, mahasiswa, maupun masyarakat yang dilayaninya.

Kepekaan itulah yang kemudian melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan menerbitkan kebijakan yang bijaksana. Pemimpin yang pintar merasa tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya paling hebat, paling wah, melainkan berusaha menemukan jalan keluar terbaik atas setiap persoalan. Ia lebih banyak mendengar daripada memerintah, lebih banyak merangkul daripada memukul, lebih banyak membina daripada membinasakan, dan lebih mengutamakan solusi daripada mencari siapa yang harus dipersalahkan.

Dalam dunia akademik, sikap seperti ini menjadi semakin penting. Universitas adalah rumah bagi beragam gagasan dan pemikiran. Tidak ada ruang bagi keangkuhan intelektual. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati untuk terus belajar, keterbukaan menerima kritik, dan keberanian mengambil keputusan berdasarkan musyawarah serta pertimbangan yang matang dan bijaksana.

Lebih dari itu, saya meyakini bahwa outcome dari kepemimpinan yang “pintar merasa” adalah akan tercipta sukses bersama. Seorang pimpinan tidak sedang mengejar keberhasilan, prestasi untuk dirinya sendiri. Ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi mereka dipuji, melainkan seberapa banyak orang yang berhasil tumbuh, berkembang, dan meraih prestasi bersama.

Ketika dosen berkembang, tenaga kependidikan merasa dihargai, mahasiswa berprestasi, dan institusi semakin maju, di situlah sesungguhnya seorang pemimpin telah berhasil. Prestasi organisasi bukanlah milik satu orang, melainkan hasil dari kerja kolektif yang dibangun atas dasar saling percaya, saling menghormati, dan saling menguatkan.

Karena itu, pemimpin yang baik tidak akan sibuk mengumpulkan poin dan koin atas setiap keberhasilan buat dirinya. Ia justru memberi ruang kepada orang lain untuk bertumbuh, memberikan apresiasi atas setiap kontribusi, dan memastikan bahwa setiap keberhasilan menjadi milik bersama. Sebab, kepemimpinan bukan tentang menjadi orang yang paling bersinar, melainkan tentang menghadirkan cahaya agar semua orang dapat melangkah menuju tujuan yang sama.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain. Pemimpin yang merasa dirinya pintar cenderung hanya ingin didengar, merasa diri sebagai ‘bos’. Sebaliknya, pemimpin yang pintar merasa akan lebih dahulu mendengarkan, memahami, kemudian mengajak semua pihak mencari solusi terbaik dan berjalan bersama.

Sejatinya, kepemimpinan yang sejati disemua level tidak melahirkan kesuksesan seorang pemimpin sebagai individu tetapi kesuksesan sebagai sebuah tim, sukses bersama. Ketika organisasi berhasil, tidak ada istilah “saya berhasil”. Yang ada adalah “kita yang berhasil”. Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari ungkapan sederhana yang pernah saya pelajari: “Pintar merasa, bukan merasa pintar.” Wallahuaklam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *