“Dulu, pada masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam,” bapak itu memulai kisahnya, jemarinya perlahan mengetuk pinggiran meja kayu yang sudah mulai lapuk. “Hidup seorang ulama besar yang sangat alim dan memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa. Beliau bukan hanya seorang pemikir, melainkan juga seorang musannif—seorang ulama produktif yang banyak menulis kitab-kitab penting yang menjadi rujukan umat. Kitab-kitab karangan beliau mencakup berbagai bidang hukum Islam yang sangat luas; mulai dari ilmu fiqih yang mengatur syariat, ilmu tasawuf yang membersihkan jiwa, hingga ilmu tauhid yang memantapkan akidah.”

Beliau menjeda kalimatnya sejenak, menatapku lekat-lekat untuk memastikan aku menyimak setiap kata yang diucapkannya dengan baik.Aku mengangguk kecil, tanda bahwa aku tenggelam dalam narasinya.

“Beliau itu bukan orang sembarangan di negeri ini, Dek. Derajat keilmuannya sangat tinggi. Bahkan, dalam catatan sejarah lisan kami, beliau adalah salah satu guru penting dari Tengku Syiah Kuala—ulama besar nusantara yang namanya kita agungkan hari ini, yang memegang jabatan sebagai Qadhi Malikul Adil sekaligus penasihat spiritual utama kerajaan ketika Sultan Iskandar Muda memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Aceh.”

Aku mendengarkan cerita itu tanpa berkedip sedikit pun. Sejarah kebesaran masa lalu Aceh selalu memiliki daya pikat magis yang berhasil mencengkeram perhatianku sepenuhnya.

“Ulama besar yang kita bicarakan ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Tengku Ujung Pancu,” lanjut sang bapak dengan nada penuh penghormatan. “Dahulu kala, sebelum nama tempat itu melekat pada dirinya, beliau tinggal dan mengabdi di sebuah pusat pendidikan agama yang sangat dihormati, yaitu Dayah Abu Chik Lam Aroen. Dayah tersebut terletak di Gampong Lamguroen, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Beliau adalah murid kesayangan sekaligus tangan kanan dari Abu Chik Lam Aroen, sang ulama sepuh yang memimpin dayah tersebut.”

Namun, raut wajah bapak tua itu mendadak berubah menjadi mendung. Kerutan di dahinya semakin dalam, dan nada suaranya yang tadinya penuh kebanggaan, kini berubah menjadi getir dan dipenuhi rasa sedih.

“Tapi, Dek… sejarah selalu berulang. Takhta dunia, kekuasaan, dan intrik politik sering kali menjadi ujian paling berat bagi para pencinta ilmu suci. Ketika Kerajaan Aceh berada di puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, datanglah seorang ulama pendatang dari tanah Arab. Ulama asing ini tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga membawa pengaruh politik yang sangat kuat ke dalam lingkaran dalam istana. Entah karena rasa dengki yang membakar hati atau karena perbedaan pandangan teologis yang tajam, ulama pendatang ini berhasil memengaruhi telinga sang Sultan.”

“Ulama asing itu mulai meniupkan racun,” bapak itu melanjutkan, suaranya bergetar menahan emosi yang bangkit dari cerita masa lalu. “Ia menyebarkan fitnah yang luar biasa keji di lingkungan istana. Ia menuduh bahwa Tengku Ujung Pancu telah keluar dari jalur syariat yang lurus dan membawakan ajaran sesat kepada masyarakat Aceh pada masa itu!”

“Lalu, apa yang terjadi pada beliau setelah fitnah itu menyebar, Pak?” tanyaku, tak tahan untuk tidak memotong karena rasa penasaran yang memuncak. Dadaku ikut berdebar membayangkan situasi pelik tersebut.

“Tragis, Dek. Sungguh tragis,” jawab bapak tua itu sembari menggelengkan kepalanya perlahan. “Fitnah politik di dalam istana adalah senjata yang sangat mematikan. Akibat tekanan politik yang bertubi-tubi dari kelompok ulama asing tersebut, Sultan akhirnya mengambil tindakan tegas. Tengku Ujung Pancu dilarang keras untuk kembali menginjakkan kakinya di dalam istana kerajaan. Beliau dikucilkan dari lingkar kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan bagi seorang ulama, kitab-kitab karangan beliau yang ditulis dengan tetesan tinta dan air mata ilmu… semuanya disita. Kitab-kitab itu dibakar secara massal di depan publik dan dinyatakan sebagai karya terlarang yang tidak boleh dibaca lagi oleh rakyat.”

Bapak itu mengepalkan tangannya di atas meja, seolah-olah ia sendiri yang merasakan kepedihan saat karya-karya berharga itu berubah menjadi abu.

“Namun, apa reaksi Tengku Ujung Pancu? Karena beliau adalah seorang ahli tasawuf sejati, seorang sufi yang hatinya telah selesai dengan urusan dunia, beliau menerima ujian maha berat itu dengan dada yang lapang. Tidak ada dendam, tidak ada pemberontakan. Beliau memilih untuk mundur sepenuhnya dari panggung politik istana. Beliau kembali ke tempat asalnya, menetap di Dayah Abu Chik Lam Aroen. Di sana, beliau mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia, fokus mengajar ilmu kepada para santri yang setia dan terus belajar serta berkhidmat kepada gurunya, Abu Chik Lam Aroen.”

Bapak itu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, lalu menyeruput kopinya sedikit, membiarkan keheningan merayap di antara kami selama beberapa detik sebelum melanjutkan bagian cerita yang jauh lebih gelap.

“Namun, ketenangan sang sufi di dalam dinding-dinding kayu dayah tidak bertahan lama. Badai yang jauh lebih besar dan mematikan kembali datang menerpa hidupnya. Beberapa tahun kemudian, setelah takhta kepemimpinan Sultan Iskandar Muda berakhir karena beliau mangkat, Kerajaan Aceh mengalami fase transisi politik yang sangat besar. Singgasana kepemimpinan tertinggi kerajaan jatuh ke tangan seorang perempuan. Beliau adalah Ratu Sri Safiatuddin, putri dari Sultan Iskandar Muda sendiri.”

“Di sinilah musuh-musuh lama Tengku Ujung Pancu kembali melihat kesempatan untuk menghancurkannya sama sekali,” lanjut sang bapak, matanya menatapku tajam. “Mereka meniupkan bara fitnah gelombang kedua. Kali ini fitnahnya jauh lebih berbahaya karena bersentuhan dengan kedaulatan negara. Tengku Ujung Pancu difitnah sebagai seorang pemberontak yang menentang kepemimpinan Ratu baru. Mereka menyebarkan berita bohong bahwa beliau menghasut masyarakat, menyatakan bahwa beliau tidak merestui jika seorang perempuan menjadi raja di tanah Aceh dengan alasan bahwa dalam hukum Islam, perempuan tidak boleh memegang kepemimpinan tertinggi atas sebuah negara.”

“Apakah beliau benar-benar menyatakan hal itu, Pak? Ataukah itu murni rekayasa?” tanyaku dengan dahi berkerut, mencoba mencari kebenaran di antara lembaran kisah kelam ini.

“Itulah liciknya fitnah yang dibalut kepentingan politik, Dek,” jawab bapak tua itu dengan senyum getir. “Mendengar laporan miring yang diklaim bisa menyulut pemberontakan di kalangan rakyat, Ratu Sri Safiatuddin yang baru naik takhta segera memanggil seluruh pejabat tinggi istana, menteri, dan penasihat hukumnya. Mereka mengadakan sidang darurat untuk mendiskusikan tuduhan terhadap Tengku Ujung Pancu. Di dalam ruang sidang yang penuh dengan intrik dan bisikan jahat itu, sebuah kesepakatan sepihak akhirnya diambil. Mereka memutuskan bahwa Tengku Ujung Pancu bersalah atas tindakan makar dan pembangkangan terhadap titah Ratu.”

“Dan hukuman yang dijatuhkan kepada beliau tidak main-main, Dek. Hukuman yang diputuskan oleh pengadilan istana pada hari itu adalah… hukuman pancung!”

Mendengar kata ‘pancung’ disebut, bulu kudukku seketika meremang. Aku bisa merasakan ketegangan yang luar biasa dari cerita bapak tua ini, seolah-olah aku sendiri yang sedang berdiri di dalam ruang sidang istana Aceh ratusan tahun yang lalu, menyaksikan keputusan zalim itu diketuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *