“Hukuman pancung…” Aku mengulangi kata-kata itu dengan suara berbisik, hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Seorang ulama besar, seorang ahli tasawuf yang menjauhkan diri dari urusan dunia, harus menghadapi takdir setragis itu hanya karena permainan kata-kata dan fitnah orang-orang yang haus kekuasaan.

Bapak tua itu mengangguk pelan, wajahnya dipenuhi rasa khidmat yang mendalam saat ia melanjutkan ceritanya.

“Benar, Dek. Ini adalah bentuk fitnah yang paling kejam dalam sejarah masa lalu kita. Bapak menceritakan ini kepadamu agar kita semua belajar, bahwa politik sering kali membutakan mata hati manusia,” ujarnya sembari memutar gelas kopinya yang kini permukaannya sudah mulai tenang, tidak lagi mengeluarkan asap.

“Menurut kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut oleh para tetua kami,” lanjutnya, “setelah keputusan hukuman pancung itu disahkan oleh pihak istana atas tuduhan ganda—yaitu mengajarkan aliran sesat dan melakukan pembangkangan terhadap Ratu—maka keesokan harinya, langit di atas Peukan Bada berubah menjadi kelam. Matahari seolah enggan menampakkan sinarnya, tertutup oleh awan mendung yang tebal. Utusan resmi dari kerajaan Aceh bergerak cepat. Mereka tidak datang sendiri, melainkan membawa sepasukan prajurit bersenjata lengkap dengan pedang dan tombak yang berkilau tajam di bawah cahaya redup.”

“Di tangan pemimpin utusan itu, tergenggam selembar surat keputusan resmi dari kerajaan yang memiliki segel merah tanda titah penguasa. Surat itu adalah surat perintah eksekusi mati. Pasukan berkuda itu berpacu kencang, memecah keheningan jalanan tanah menuju ke satu tujuan pasti: Dayah Abu Chik Lam Aroen.”

Bapak itu menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah ia sendiri ikut merasakan ketegangan yang melanda dayah pada pagi hari yang naas tersebut.

“Pada hari itu, suasana di Dayah Abu Chik Lam Aroen sebenarnya berjalan seperti biasa. Para santri sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengulang hafalan kitab mereka. Namun, ketenangan itu mendadak hancur berantakan ketika deru langkah kaki kuda dan teriakan pasukan kerajaan mengepung seluruh area dayah. Abu Chik Lam Aroen, sang ulama sepuh, beserta seluruh muridnya keluar dengan wajah terkejut dan hati yang berdebar kencang. Mereka terperangah, bingung melihat mengapa pasukan bersenjata lengkap tiba-tiba mengepung tempat suci mereka.”

“Ketika pemimpin utusan kerajaan maju ke depan dan membacakan isi surat keputusan Ratu dengan suara lantang, bumi seakan runtuh bagi seluruh penghuni dayah. Surat itu dengan tegas menyatakan bahwa Tengku Ujung Pancu dinyatakan bersalah atas tindakan makar dan penyesatan umat, dan hari itu juga, beliau harus dibawa untuk dieksekusi mati.”

“Mendengar tuduhan yang sangat tidak masuk akal tersebut, Tengku Ujung Pancu yang berada di sana langsung melangkah maju ke depan,” bapak tua itu memperagakan gerakan tubuh yang tegap, menirukan wibawa sang ulama kala itu. “Dengan suara yang tenang namun bergetar oleh kebenaran, beliau membantah semua tuduhan itu. Beliau berkata, ‘Demi Allah, ini adalah fitnah yang sangat keji buat saya! Saya tidak pernah melakukan pembangkangan, dan saya tidak pernah menghasut siapa pun untuk menentang kepemimpinan Ratu!’

“Pembelaan Tengku Ujung Pancu itu langsung dibenarkan dan didukung sepenuhnya oleh sang guru, Abu Chik Lam Aroen, serta seluruh santri yang berada di sana. Mereka semua pasang badan, maju ke garda terdepan untuk melindungi beliau. Abu Chik Lam Aroen bersaksi di hadapan para utusan kerajaan bahwa selama bertahun-tahun berada di dalam dayah, Tengku Ujung Pancu hanya menghabiskan waktunya untuk mengajar, belajar, dan beribadah. Beliau adalah seorang ahli ilmu tasawuf tingkat tinggi, seorang sufi yang sangat menjaga lisannya. Beliau tidak pernah sekalipun berbicara tentang politik, tidak pernah membicarakan aib orang lain, apalagi mengeluarkan pernyataan provokatif bahwa Aceh tidak boleh dipimpin oleh seorang perempuan atau Ratu pada masa itu.”

“Para murid dayah menangis, mereka berteriak histeris menuntut keadilan. Mereka tahu persis betapa sucinya hati guru mereka. Namun, Dek… seperti yang kukatakan tadi, utusan kerajaan yang datang hari itu tidak membawa telinga untuk mendengar, mereka juga tidak membawa hati untuk menimbang keadilan. Mereka datang murni sebagai mesin eksekusi dari sebuah perintah politik yang sudah bulat.”

“Pemimpin pasukan tidak mau menerima kompromi atau negosiasi apa pun. Baginya, bantahan dari pihak dayah hanyalah angin lalu yang tidak ada gunanya. Dengan wajah dingin tanpa ampun, ia memerintahkan pasukannya untuk merangsek maju. Di bawah ancaman ujung tombak dan pedang yang terhunus, tubuh Tengku Ujung Pancu akhirnya diseret secara paksa keluar dari lingkungan dayah yang suci itu, meninggalkan jerit tangis kesedihan dan doa yang membubung tinggi ke langit dari guru dan murid-muridnya yang tidak berdaya melawan kekuatan militer kerajaan…”

Bapak tua itu menghentikan ceritanya tepat di titik itu. Suasana di meja kami kembali menjadi sunyi senyap, menyisakan rasa sesak di dalam dadaku memikirkan nasib tragis sang ulama sejati yang kini berada di ujung tanduk kekuasaan.

Bagaimana kelanjutan eksekusi mati tersebut di pesisir pantai? Dan peristiwa luar biasa apa yang menjadi asal-usul nama tempat yang kini kita kenal sebagai Ujung Pancu?

(Lanjutkan ke Bab Berikutnya…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *