Langkah kaki tegap para prajurit kerajaan memecah kesunyian pesisir. Di bawah kawalan ketat pasukan bersenjata, Tengku Ujung Pancu digiring menyusuri jalanan setapak yang berliku, membelah hutan kecil hingga akhirnya mereka tiba di sebuah wilayah pesisir yang sunyi.

Tempat itu berada di ujung daratan. Sebuah wilayah di mana bebatuan cadas yang hitam dan kokoh berdiri menantang amukan ombak Samudra Hindia. Angin laut berembus sangat kencang, menerbangkan butiran pasir pantai dan menerpa jubah putih sang ulama yang mulai kotor oleh debu perjalanan.

Tempat itulah, Dek, yang sekarang kita kenal sebagai Ujung Pancu. Tempat indah yang sore ini ingin kamu datangi untuk memancing ikan bersama kawanmu.

Di atas pasir pantai yang putih, eksekusi mati telah dipersiapkan dengan matang. Seorang algojo berbadan tegap dan berwajah garang sudah berdiri menanti. Di tangannya, sebilah pedang panjang yang berkilat tajam di bawah sapuan cahaya matahari seolah memancarkan aura kematian yang mencekam. Pasukan kerajaan membentuk barisan melingkar, menutup semua akses dan memastikan tidak ada satu pun orang luar yang bisa mendekat atau menggagalkan perintah Ratu.

Namun, ada satu hal yang membuat hati para prajurit dan algojo itu perlahan-lahan dihinggapi rasa jemu sekaligus heran.

Sepanjang perjalanan dari Dayah Abu Chik Lam Aroen hingga menginjakkan kaki di atas pasir pantai ini, wajah Tengku Ujung Pancu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Tidak ada keputusasaan di matanya. Tidak ada tetesan air mata penyesalan. Wajah beliau tampak begitu tenang, bersih, dan memancarkan kedamaian yang luar biasa.

Bagi seorang hamba yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada ilmu tasawuf, kematian bukanlah akhir yang menakutkan. Mati di ujung pedang akibat mempertahankan kebenaran dari fitnah keji adalah sebuah pintu gerbang emas menuju kesyahidan yang mulia. Beliau tahu, pengadilan manusia bisa saja keliru dan dipenuhi kelaliman, namun pengadilan Allah tidak akan pernah meleset seujung rambut pun.

Sebelum algojo mengangkat pedangnya, pemimpin utusan kerajaan maju ke depan dan memberikan kesempatan terakhir. “Apakah ada permintaan terakhirmu sebelum hukuman ini dilaksanakan, Tengku?” tanyanya dengan suara dingin.

Tengku Ujung Pancu menatap langit sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada pemimpin pasukan. “Izinkan aku mendirikan salat dua rakaat, menghadap Rabb-ku untuk yang terakhir kalinya di atas bumi ini,” jawab beliau dengan nada suara yang sangat tenang, tanpa getaran ketakutan sedikit pun.

Pemimpin utusan itu mengangguk pelan, memberikan isyarat kepada pasukannya untuk mundur beberapa langkah.

Di atas sajadah alam berbentuk hamparan pasir pantai Ujung Pancu, berlatarkan suara gemuruh ombak yang saling berkejaran menghantam batu karang, Tengku Ujung Pancu memulai salatnya. Setiap gerakannya dipenuhi dengan kekhusyukan yang luar biasa. Beliau bersujud sangat lama pada rakaat terakhirnya, menumpahkan seluruh jiwa dan raganya ke hadirat Yang Maha Kuasa.

Setelah mengucapkan salam, beliau bangkit dan berdiri dengan tegap. Beliau memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali sembari menatap ke arah langit yang mulai meredup. Dengan suara baritonnya yang lantang, berwibawa, dan menggetarkan hati setiap prajurit yang mendengarnya, beliau berkata:

“Wahai sekalian manusia yang menyaksikan hari ini… Saksikanlah oleh kalian semua, bahwa aku mati di atas jalan kebenaran! Demi Allah, fitnah keji ini boleh saja merenggut nyawaku hari ini, akan tetapi ia tidak akan pernah bisa menghapus lembaran ilmu yang telah aku ajarkan kepada murid-muridku!”

Kata-kata itu bergema di sepanjang pesisir pantai, mengalahkan gemuruh ombak samudra. Beberapa prajurit muda tampak menundukkan kepala, hati kecil mereka mulai goyah dan meragukan kebenaran tugas yang sedang mereka laksanakan. Namun, perintah tetaplah perintah.

Algojo melangkah maju. Ia memberi isyarat agar Tengku Ujung Pancu berlutut di atas pasir. Sang ulama mengikuti perintah itu dengan patuh. Beliau menundukkan kepalanya, sementara bibirnya tak henti-hentinya merapalkan zikir dan selawat kepada Baginda Nabi Muhammad ï·º.

Suasana mendadak menjadi begitu mencekam. Angin laut yang tadinya berembus kencang tiba-tiba saja mereda, seolah ikut menahan napas menyaksikan takdir seorang kekasih Allah. Algojo mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Otot-otot lengannya menegang.

Sreeettt!

Dengan satu tebasan yang sangat kuat, cepat, dan terarah, pedang yang berkilat tajam itu diayunkan tepat ke arah leher Tengku Ujung Pancu.

Namun, Dek… di detik yang mengerikan itulah, sebuah keajaiban besar diperlihatkan oleh Allah SWT kepada mata-mata manusia yang zalim. Peristiwa yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah lisan masyarakat Peukan Bada secara turun-temurun terjadi.

Begitu mata pedang yang tajam itu memutus urat leher beliau, tidak ada genangan darah merah yang memancar deras layaknya eksekusi mati pada umumnya. Tubuh ulama sufi itu rubuh dengan sangat mulia di atas pasir pantai. Dan dari tempat mengalirnya darah suci tersebut, tiba-tiba saja keluar sebuah aroma wewangian yang sangat harum!

Aroma itu bukan wangi biasa. Itu adalah wangi kasturi yang sangat pekat, lembut, dan menenangkan hati. Hanya dalam hitungan detik, embusan angin pantai membawa aroma harum tersebut menyebar luas, memenuhi seluruh pesisir pantai, masuk ke indra penciuman setiap prajurit, utusan kerajaan, hingga sang algojo sendiri.

Mencium aroma ajaib tersebut, sang algojo seketika melepaskan pedangnya. Pedang itu jatuh berdenting di atas batu karang. Wajah garang sang algojo berubah menjadi pucat pasi seketika. Kedua lututnya lemas, dan ia tersungkur bersimpuh di atas pasir di samping tubuh sang ulama.

Bukan hanya dia, pemimpin utusan kerajaan dan seluruh prajurit yang mengelilingi tempat itu langsung gemetar hebat. Rasa takut yang luar biasa menjalar ke dalam dada mereka. Mereka menyadari satu kenyataan yang sangat mengerikan bagi jiwa mereka: orang yang baru saja mereka bantai dengan kejam hari ini bukanlah seorang pengajar aliran sesat, bukan pula seorang pemberontak negara.

Beliau adalah seorang Waliyullah—seorang kekasih Allah yang suci, yang karomahnya baru saja ditunjukkan secara nyata di depan mata kepala mereka sendiri. Mereka telah menjadi kaki tangan dari sebuah kezaliman terbesar pada masa itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *