Bapak tua itu menghentikan narasinya sejenak. Ia mengambil napas dalam-dalam, menyeka sudut matanya yang tampak sedikit berkaca-kaca karena larut dalam emosi cerita yang ia bawakan sendiri. Warung kopi tempat kami duduk kini benar-benar senyap, bahkan beberapa pengunjung di meja lain tampak mencuri dengar cerita bapak tua ini.

“Lalu, bagaimana kelanjutan setelah peristiwa luar biasa itu, Pak?” tanyaku, memecah keheningan dengan suara yang agak serak karena ikut terharu.

Bapak itu kembali menatapku, senyum getir terukir di wajah senjanya. “Para utusan dan prajurit itu kembali ke istana dengan tubuh gemetar dan hati yang hancur. Mereka melaporkan kejadian ajaib di pantai itu apa adanya kepada Ratu Sri Safiatuddin dan para pejabat istana.”

“Mendengar kabar tentang aroma harum kasturi yang keluar dari tubuh Tengku Ujung Pancu, Ratu dan para penasihat kerajaan seketika terdiam. Penyesalan yang teramat dalam dan rasa bersalah yang teramat besar langsung menghantam dinding-dinding istana Kerajaan Aceh Darussalam pada masa itu. Mereka menyadari bahwa mereka telah termakan oleh konspirasi politik yang kotor dan fitnah keji dari ulama asing yang dengki.”

“Namun, Dek… nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan setinggi langit pun tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa seorang ulama besar yang telah tiada. Guru dari sang Qadhi Malikul Adil telah syahid akibat kekhilafan para pemimpinnya.”

“Jasad mulia Tengku Ujung Pancu kemudian dimakamkan dengan penuh penghormatan tepat di tempat beliau mengembuskan napas terakhirnya, di pesisir pantai tersebut. Dan sejak hari eksekusi mati itu, masyarakat Aceh mengabadikan nama tempat tersebut dengan sebutan Ujung Pancu. Nama itu diambil dari kata ‘Pancung’, sebuah monumen ingatan abadi bagi generasi-generasi setelahnya agar selalu ingat akan sejarah kelam sebuah fitnah, dan agar tidak ada lagi ulama atau orang tak bersalah yang dikorbankan demi syahwat politik kekuasaan.”

Bapak tua itu mengakhiri ceritanya dengan sebuah helaan napas panjang yang seolah melepaskan seluruh beban sejarah yang ada di dadanya. Beliau meraih gelas kopinya, meminum sisa kopi hitam yang tinggal sedikit di dasar gelas, lalu menepuk pundakku perlahan dengan tangannya yang hangat.

“Jadi, Dek…” kata beliau dengan nada suara yang kembali melembut. “Nanti kalau kamu dan kawanmu sudah sampai di Ujung Pancu, jangan hanya ingat tentang joran, umpan, dan ikan apa yang akan kalian dapatkan di sana. Jangan hanya mengagumi keindahan tebing dan lautnya saja.”

“Sempatkanlah melangkahkan kakimu sebentar menuju ke kompleks makam beliau. Berziarah dengan hati yang bersih, kirimkan doa selawat dan bacakan surah Al-Fatihah terbaikmu untuk Tengku Ujung Pancu. Beliau adalah orang suci, seorang pejuang ilmu yang tanah syahidnya sedang kita pijak hari ini.”

Tepat saat bapak tua itu menyelesaikan kalimat nasihatnya, sebuah suara klakson sepeda motor yang nyaring mengejutkanku dari arah luar warung kopi.

Tinn! Tinn!

Aku menoleh ke arah jalan. Di sana, seorang pemuda dengan jaket hitam sedang melambaikan tangannya ke arahku sembari tersenyum tanpa dosa. Di bagian belakang motornya, terikat erat sebuah wadah ikan dan beberapa peralatan memancing. Itu adalah kawanku, orang yang sudah membuatku menunggu hampir satu jam lamanya di warung ini.

“Ah, kawan yang kamu tunggu rupanya sudah datang, Dek. Pergilah, hari sudah mulai sore. Hati-hati di jalan selama berkendara, dan ingat baik-baik pesan Bapak tadi, ya,” ujar bapak tua itu sembari berdiri dari kursinya dengan senyum ramah yang kembali menghiasi wajahnya.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak atas segelas kopi dan kisah sejarah yang sangat, sangat berharga ini. Saya tidak akan melupakan pesan Bapak,” jawabku dengan tulus sembari menyalaminya dengan takzim.

Aku segera melangkah ke meja kasir, membayar seluruh pesanan kopi hitamku serta kopi yang diminum oleh bapak tua tadi sebagai rasa terima kasihku atas ilmu yang baru saja kudapatkan. Setelah itu, aku menyandang tas pancingku dan berjalan keluar meninggalkan warung kopi.

“Lama kali kau tunggu, ya? Maaf, tadi ada urusan sebentar di rumah,” ujar kawanku santai saat aku memakai helm dan naik ke atas jok belakang motornya.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat sembari tersenyum misterius. “Justru karena kau terlambat, aku baru saja mendapatkan sebuah perjalanan berharga melintasi waktu.”

Kawanku hanya mengernyitkan dahi bingung, tidak mengerti apa yang kumaksud. Ia langsung menarik gas motornya, membelah jalanan aspal Peukan Bada menuju ke arah pesisir pantai.

Di sepanjang perjalanan, mataku menatap lurus ke arah bukit-bukit batu yang mulai terlihat di kejauhan. Sore ini, tempat yang kutuju bukan lagi sekadar sebuah spot memancing yang indah dan menyenangkan di dalam benakku. Ujung Pancu kini telah menjelma menjadi sebuah tempat yang sakral—sebuah monumen alam yang bisu, di mana kebenaran sejati pernah diuji oleh tajamnya pedang, dan di mana aroma harum kasturi pernah mengalahkan busuknya sebuah fitnah kekuasaan.

[TAMAT]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *