PUTIHNEWS.COM, Jakarta – Kerusakan hutan bukan hanya berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Sebuah studi terbaru yang dipimpin peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Planetary Health mengungkap bahwa perubahan tata guna lahan, termasuk deforestasi, telah memperburuk kualitas udara di Asia Tenggara dan memicu ribuan kematian dini setiap tahun.

Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 13.000 kematian dini terjadi di Asia Tenggara pada 2018 akibat perubahan penggunaan lahan. Dari jumlah itu, Indonesia menjadi negara dengan dampak terbesar, dengan estimasi sekitar 4.800 kematian dini yang berkaitan dengan meningkatnya paparan polusi udara, terutama partikel halus PM2.5.

Selain dampak kesehatan, studi itu juga memperkirakan kerugian ekonomi akibat memburuknya kualitas udara mencapai sekitar US$7,8 miliar di kawasan Asia Tenggara. Untuk Indonesia, kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp40 triliun per tahun, dipicu oleh meningkatnya biaya kesehatan dan menurunnya produktivitas masyarakat.

Para peneliti menjelaskan bahwa deforestasi, ekspansi pertanian, dan perubahan tutupan lahan mengubah suhu, kelembapan, serta sirkulasi atmosfer. Perubahan tersebut memperparah pembentukan dan penyebaran polutan seperti PM2.5 dan ozon yang diketahui meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Direktur Centre for Climate Change and Environmental Health (CCEH) NTU Singapura, Prof. Steve Yim, menyatakan bahwa pengelolaan lahan yang lebih baik dapat memberikan manfaat besar, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan ketahanan ekonomi kawasan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan bukan semata isu konservasi, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat. Upaya mengurangi deforestasi, memperkuat tata kelola lahan, dan menjaga kawasan hutan dinilai menjadi langkah penting untuk menekan polusi udara sekaligus mengurangi beban penyakit di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *