Oleh: Rahmi Fajri

Aceh mewarisi kekayaan budaya yang tidak hanya berupa tarian, adat istiadat, maupun bangunan bersejarah. Salah satu warisan paling berharga adalah Hadih Maja, kumpulan petuah bijak yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman hidup masyarakat Aceh. Meski lahir ratusan tahun lalu, pesan-pesannya tetap relevan hingga hari ini.

Salah satu Hadih Maja yang sarat makna berbunyi:

“Aneuk cakeuk jisaroeuk lam blang, Daruet canggang meupuséng puta, Panèë mungkén geutanyoe meunanang, Ngon mue pisang tapöh naga.”

Secara sederhana, pepatah ini mengajarkan bahwa setiap persoalan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Oleh karena itu, penyelesaiannya pun harus menggunakan cara yang tepat. Mustahil mengalahkan seekor naga hanya dengan pelepah pisang. Perumpamaan ini menggambarkan bahwa masalah besar tidak akan selesai jika dihadapi dengan cara yang lemah, asal-asalan, atau tidak sesuai.

Falsafah ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Banyak persoalan di tengah masyarakat yang membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar wacana. Kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, rendahnya kualitas pendidikan, hingga persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya melalui pidato, janji, atau saling menyalahkan. Semua membutuhkan strategi yang matang, kerja sama yang kuat, serta keberanian mengambil keputusan.

Dalam dunia pemerintahan, Hadih Maja ini menjadi pengingat bahwa pemimpin harus mampu memilih kebijakan yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Masalah pembangunan tidak cukup dijawab dengan pendekatan seremonial. Dibutuhkan perencanaan yang berbasis data, komunikasi yang terbuka, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan emosi atau ego. Perbedaan pendapat, konflik sosial, maupun tantangan ekonomi membutuhkan kebijaksanaan dalam mencari jalan keluar. Masyarakat Aceh sejak dahulu telah diajarkan untuk berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan.

Hadih Maja ini juga mengajarkan pentingnya mengenali kemampuan diri. Jangan memaksakan cara yang tidak sesuai dengan kondisi. Sebaliknya, seseorang harus terus belajar, meningkatkan kapasitas, dan mempersiapkan diri agar mampu menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, nilai-nilai lokal seperti Hadih Maja tidak boleh dipandang sebagai sekadar peninggalan masa lalu. Justru di sanalah tersimpan filosofi kepemimpinan, etika, dan cara berpikir masyarakat Aceh yang tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Pepatah “Ngon mue pisang tapöh naga” bukan sekadar ungkapan puitis. Ia merupakan peringatan agar kita tidak menyelesaikan persoalan besar dengan cara yang keliru. Sebab, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh niat yang baik, tetapi juga oleh strategi yang tepat.

Warisan kearifan lokal ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir dari kemampuan memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil tindakan. Inilah nilai yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda Aceh, agar mereka tidak hanya bangga terhadap budayanya, tetapi juga mampu menerapkan hikmah yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Hadih Maja bukan sekadar kata-kata bijak, melainkan kompas moral yang mengingatkan bahwa setiap tantangan memerlukan keberanian, kecerdasan, dan strategi yang sepadan. Sebab, tidak mungkin seekor naga dapat dikalahkan hanya dengan sebatang pelepah pisang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *