Banda Aceh | Putihnews.com Kearifan lokal Aceh yang diwariskan turun-temurun melalui narit maja dinilai tetap relevan sebagai pedoman dalam mendidik anak di tengah derasnya arus modernisasi. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Teuku Muttaqin Mansur, M.H., Dosen Hukum Adat Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK), melalui sebuah infografis edukatif bertajuk “Mendidik Anak dengan Narit Maja.”

Menurut Prof. Teuku Muttaqin Mansur, narit maja merupakan rangkaian ungkapan bijak masyarakat Aceh yang sarat dengan nilai moral, agama, dan filosofi kehidupan. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam membentuk karakter, menjaga keharmonisan keluarga, serta menciptakan kehidupan yang damai dan bermartabat.

Narit maja adalah untaian ucapan yang bernilai filosofi tinggi, menjadi pedoman hidup untuk kebaikan, ketenteraman, keharmonisan, dan keseimbangan hidup hingga selamat di dunia dan akhirat,” tulis Prof. Teuku Muttaqin Mansur dalam infografis tersebut.

Ia menjelaskan, salah satu narit maja yang terkenal berbunyi “Umpama ija putéh, mantong gléh goh keunong ceuma,” yang mengibaratkan anak seperti kain putih yang masih suci. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga, membimbing, dan mendidik anak sejak dini agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Selain itu, narit maja juga mengingatkan bahwa kasih sayang kepada anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi, tetapi harus diwujudkan melalui pendidikan, bimbingan, dan keteladanan. Pendidikan karakter yang kuat akan melahirkan anak yang menghormati orang tua serta memberi manfaat bagi masyarakat.

Prof. Teuku Muttaqin Mansur juga menekankan bahwa kekayaan maupun kedudukan bukanlah jaminan keberhasilan seseorang apabila pendidikan diabaikan. Oleh sebab itu, pembentukan karakter harus dimulai sejak usia dini melalui keluarga, lingkungan, dan sekolah.

Di tengah perkembangan teknologi dan budaya global, keberadaan narit maja semakin jarang dikenal oleh generasi muda. Penuturnya terus berkurang, sementara masyarakat lebih banyak mengakses informasi melalui media digital. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga warisan budaya Aceh.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali narit maja sebagai bagian dari pendidikan karakter. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya diyakini mampu membentuk generasi Aceh yang cerdas, berkarakter, beradab, dan tetap berpegang teguh pada identitas budayanya.

“Jangan hanya melihat hebatnya masa lalu, pelajaran dari narit maja adalah emas yang harus kita wariskan untuk generasi Aceh,” demikian pesan yang disampaikan dalam infografis tersebut.

Melalui penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, diharapkan narit maja tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi panduan nyata dalam membangun keluarga yang harmonis serta melahirkan generasi Aceh yang bermartabat dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *